Monday, August 20, 2007

Mengenal ikon film Hanung ing larung dan Sial di hari ketiga

Hari ketiga ini peserta workshop diberi tugas untuk belajar mencari ikon film Hanung ing Larung (Herry Sasongko) dan Sial (Bambang ipung). Ikon film adalah suatu simbol atau gambaran paling menarik yang dapat mewakili dari sebuah film. Meski demikian, ikon yang akan dipakai untuk cover film jangan sampai menggambarkan inti cerita (spoiler). Ikon dapat berupa permainan warna dan font, atau unsur kecil yang menjiwai seluruh film, yang penting adalah ia memiliki daya jual dan mencuri perhatian target kita, yaitu penonton atau kolektor film.

Setelah ikon, hal yang penting untuk dibicarakan adalah merchandise, sebagai media (pelengkap) publikasi. Ada merchant yang dikeluarkan sebelum film diputar dan ada pula setelah film diputar. Sifat merchant pra launching sama seperti ketika kita mengerjakan aplikasi cover dan publikasi, yaitu konsep mengenalkan sebuah film terhadap audiens. Poster adalah kasus yang berbeda. Ia merupakan salah satu media aplikasi awal untuk publikasi, namun tidak berhenti ketika melihat media promo dan selesai, ia juga dapat berbicara tentang proses pengembangannya melalui sebuah ikon dan merchant yang cukup mewakili.

Herrysas (Sutradara; Hanung ing Larung) akan membatu menjelaskan tentang bagaimana konsep batik yanga diaplikasikan sebagai ikon dalam filmnya. Kemudian peserta diminta untuk membawa ide masing-masing tentang font, permainan warna dan hal mana yang akan diambil sebagai ikon. Ide mengusung film anak sebenarnya lebih menjual dibanding film remaja atau dewasa karena (konotasi) bahwa anak pasti tidak akan menonton sendiri. Keseragaman ide muncul dari, Hanung dengan bunuh diri dan Sial dengan rambu sebagai narasi. Ketika kata Sial tidak ada rambu untuk mewakili, peserta kemudian berusaha menerjemahkan Sial dengan rambu sendiri dengan cara mengembangkan dasar rambu atau sign yang sudah ada.

Jika Hanung memiliki isi film dan cara penyampaian yang selaras, tidak demikian dengan Sial yang menggunakan rambu. Bagaimana mencari ikon dari film Sial yang sudah lebih dulu bermain dengan rambu sebagai sarana penyampai pesannya? Pilihan yang tersedia adalah bermain dengan warna dan jenis huruf (font). Warna kuning dalam konvensi rambu lalu lintas mewakili peringatan, merah larangan dan biru adalah informasi. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka hadirlah ikon Sial seperti yang ada sekarang.



Selesai dengan ikon, peserta diajak masuk ke topik launching. Prolog mengenai peluncuran suatu produk apapun itu, baik seni maupun bukan, sebagai media sosialisasi yang menggebrak. Itu sebabnya, logika sebuah acara peluncuran (launching event) adalah memunculkan kesan produk ke dalam acara tersebut. Untuk teknisnya, dapat dimulai dari mendata apa saja yang dibutuhkan dalam sebuah peluncuran; ragam penonton, karakter tempat, program dan konsep acara peluncuran itu sendiri.

Pr bersama untuk besok adalah bagaimana menyusun strategi untuk Hanung dan Sial dalam sesi produksi dan distribusi. Sesuai dengan materi yang telah diterima, peserta ditantang untuk bersamasama membuat extra features.

No comments: