Menonton 9 film sekaligus tetap membuat mabuk, setidaknya itu alasan pertama untuk membenarkan keterdiaman dari peserta workshop kemas mari menonton di hari pertama ini. Walaupun yang ditonton film pendek, dengan ketidaksiapan mental menghadapi berbagai macam tema tetap membuat otak sedikit terkejut.
Gentur, dari Guardian Visual Design mulai membuka pembahasan tentang pentingnya membuat strategi publikasi yang tepat guna memperlancar distribusi film dan para peserta workshop pun seperti (masih) mendengarkan dongeng. Gentur menyontohkan tentang labelisasi pada publikasi cetak seperti poster, warna, jenis huruf, gambar atau visualisasi yang spesifik membuat orang semakin mudah mengingat dan membayangkan. Kesempatan berikutnya bagi peserta workshop adalah memilih film yang mereka suka, pilihannya rata-rata jatuh pada Sial dan Hanung Ing Larung. Pilihan masih didasarkan pada bagaimana suksesnya film tersebut menampilkan ikon-ikon, dan belum menyentuh syarat-syarat teknis film pada umumnya. (Pilihan dibuat dengan tidak mengindahkan syarat teknis sebuah film, semata-mata pada keberhasilannya menampilkan sebuah ikon).
Ikon disini, menjadi perwakilan dari karya film itu sendiri, seperti baju favorit yang kita pakai sehingga orang akan selalu ingat hanya karena pandangan sekilas.
Dari hasil diskusi peserta workshop belum bisa memutuskan untuk mengambil satu atau membuat kompilasi dari beberapa film yang sudah ditonton. Ada pendapat bahwa membuat kompilasi secara tematik akan lebih menarik dan ada juga yang berpikir ketika satu film lengkap dengan ekstra feature akan lebih baik.
bersambung...
Dari hasil diskusi peserta workshop belum bisa memutuskan untuk mengambil satu atau membuat kompilasi dari beberapa film yang sudah ditonton. Ada pendapat bahwa membuat kompilasi secara tematik akan lebih menarik dan ada juga yang berpikir ketika satu film lengkap dengan ekstra feature akan lebih baik.
bersambung...

No comments:
Post a Comment