Wednesday, July 4, 2007
cerita di hari kedua
Workshop hari kedua masih dengan Gentur dari GVD, materi meliputi ikon, desain, dan packaging. Di awal acara peserta menonton film À L’abri des Regards Indiscrets, memberi pandangan baru bagi peserta bahwa extra feature pun bisa menjadi materi menarik untuk dilihat sebagai bagian dari keseluruhan film yang ditonton.
Setelah menonton, Gentur membuka diskusi dengan memberikan ulasan singkat tentang pengemasan dari sisi pewarnaan. Pengemasan hitam putih pun bisa sangat menarik apabila di dukung dengan desain yang sifatnya ikonik, meskipun pengemasan dengan warna jelas memiliki keunggulan tersendiri, ia akan lebih menarik dan lebih mudah memunculkan ikon-ikon yang dibawa dari film bersangkutan. Gentur menjelaskan tentang ikon film, apa yang dimaksud dengan ikon film, bagaimana mendapatkan ikon yang tepat, dan fungsi ikon untuk distribusi dan labelisasi film.
Mengambil contoh film Hanung Ing Larung, kisah seorang anak bernama Hanung yang hidup bersama bapaknya, pengangguran yang sering melakukan kekerasan domestik dan ibu yang bekerja sebagai buruh penambang pasir. Dari film ini, Maka kain batik dari kostum ibu Hanung bisa jadi perwakilaan dari tema film yang bernuasa drama melankolis ini: batik yang sudah lusuh identik dengan sosok perempuan yang mengenakannya, perempuan desa yang sederhana, kemudian diberi sentuhan dengan noda – noda pasir yang melekat seakan menyatakan bahwa orang yang memakainya adalah pekerja keras. Batik lusuh yang bernodakan pasir seakan mewakili film Hanung Ing Larung karena keseluruhan film ini menampilkan jalan cerita dan setting film yang pahit, suram, dan penuh perjuangan.
Masalah pengemasan, penekanannya lebih pada bentuk kemas yang simpel dan desain yang menarik (seperti yang sudah dibahas di awal). Misalnya saja bentuk kotak persegi panjang, identik dengan kemasan film pada umumnya dengan alasan kemudahan penyimpanan di rak bagi kolektor. Kemudian dengan selimut sorong karena bisa berfungsi sebagai pelingdung kotak kepingan dan mudah mengerti tentang gambaran isi cerita film dari desain belakang dan ikon film di depan bisa lebih tampil maksimal karena bidang yang cukup luas.
Setelah menonton, Gentur membuka diskusi dengan memberikan ulasan singkat tentang pengemasan dari sisi pewarnaan. Pengemasan hitam putih pun bisa sangat menarik apabila di dukung dengan desain yang sifatnya ikonik, meskipun pengemasan dengan warna jelas memiliki keunggulan tersendiri, ia akan lebih menarik dan lebih mudah memunculkan ikon-ikon yang dibawa dari film bersangkutan. Gentur menjelaskan tentang ikon film, apa yang dimaksud dengan ikon film, bagaimana mendapatkan ikon yang tepat, dan fungsi ikon untuk distribusi dan labelisasi film.
Mengambil contoh film Hanung Ing Larung, kisah seorang anak bernama Hanung yang hidup bersama bapaknya, pengangguran yang sering melakukan kekerasan domestik dan ibu yang bekerja sebagai buruh penambang pasir. Dari film ini, Maka kain batik dari kostum ibu Hanung bisa jadi perwakilaan dari tema film yang bernuasa drama melankolis ini: batik yang sudah lusuh identik dengan sosok perempuan yang mengenakannya, perempuan desa yang sederhana, kemudian diberi sentuhan dengan noda – noda pasir yang melekat seakan menyatakan bahwa orang yang memakainya adalah pekerja keras. Batik lusuh yang bernodakan pasir seakan mewakili film Hanung Ing Larung karena keseluruhan film ini menampilkan jalan cerita dan setting film yang pahit, suram, dan penuh perjuangan.
Masalah pengemasan, penekanannya lebih pada bentuk kemas yang simpel dan desain yang menarik (seperti yang sudah dibahas di awal). Misalnya saja bentuk kotak persegi panjang, identik dengan kemasan film pada umumnya dengan alasan kemudahan penyimpanan di rak bagi kolektor. Kemudian dengan selimut sorong karena bisa berfungsi sebagai pelingdung kotak kepingan dan mudah mengerti tentang gambaran isi cerita film dari desain belakang dan ikon film di depan bisa lebih tampil maksimal karena bidang yang cukup luas.
Tuesday, July 3, 2007
sekelumit cerita di hari pertama
Menonton 9 film sekaligus tetap membuat mabuk, setidaknya itu alasan pertama untuk membenarkan keterdiaman dari peserta workshop kemas mari menonton di hari pertama ini. Walaupun yang ditonton film pendek, dengan ketidaksiapan mental menghadapi berbagai macam tema tetap membuat otak sedikit terkejut.
Gentur, dari Guardian Visual Design mulai membuka pembahasan tentang pentingnya membuat strategi publikasi yang tepat guna memperlancar distribusi film dan para peserta workshop pun seperti (masih) mendengarkan dongeng. Gentur menyontohkan tentang labelisasi pada publikasi cetak seperti poster, warna, jenis huruf, gambar atau visualisasi yang spesifik membuat orang semakin mudah mengingat dan membayangkan. Kesempatan berikutnya bagi peserta workshop adalah memilih film yang mereka suka, pilihannya rata-rata jatuh pada Sial dan Hanung Ing Larung. Pilihan masih didasarkan pada bagaimana suksesnya film tersebut menampilkan ikon-ikon, dan belum menyentuh syarat-syarat teknis film pada umumnya. (Pilihan dibuat dengan tidak mengindahkan syarat teknis sebuah film, semata-mata pada keberhasilannya menampilkan sebuah ikon).
Ikon disini, menjadi perwakilan dari karya film itu sendiri, seperti baju favorit yang kita pakai sehingga orang akan selalu ingat hanya karena pandangan sekilas.
Dari hasil diskusi peserta workshop belum bisa memutuskan untuk mengambil satu atau membuat kompilasi dari beberapa film yang sudah ditonton. Ada pendapat bahwa membuat kompilasi secara tematik akan lebih menarik dan ada juga yang berpikir ketika satu film lengkap dengan ekstra feature akan lebih baik.
bersambung...
Dari hasil diskusi peserta workshop belum bisa memutuskan untuk mengambil satu atau membuat kompilasi dari beberapa film yang sudah ditonton. Ada pendapat bahwa membuat kompilasi secara tematik akan lebih menarik dan ada juga yang berpikir ketika satu film lengkap dengan ekstra feature akan lebih baik.
bersambung...
Subscribe to:
Comments (Atom)
